Berawal dari trauma masa kecil
Bismillahirrahmanirrahiim...
Bicara tentang mendidik anak, sebenarnya hal yang sampai saat ini masih saya pelajari. Bagaimana tidak, diusia pernikahan yang baru menginjak 4 tahun, dikaruniakan 2 orang anak yg masih berumur balita (tsaqif 3.5tahun dan tsabitha 23 bulan) membuat saya haus akan ilmu pendidikan dan pengasuhan anak. Awalnya saya berfikir mendidik anak itu mengalir saja, selayaknya dahulu orangtua saya mendidik saya. Well, tidak ada yang keliru memang setiap orangtua punya cara-cara sendiri dalam mendidik anak mereka, bagaimanapun cara mereka mendidik anak, tujuannya tetap satu; yaitu membahagiakan anak-anak kelak mereka dapat tumbuh dengan baik.
Saya sendiri masih belum menemukan metode yg sesuai untuk anak-saya. Saya sadari masa kanak-kanak saya memang cukup berkesan saat itu. Walaupun kedua orangtua saya bekerja, saya masih dapat kasih sayang mereka semasa kanak-kanak saat itu, hingga ada beberapa hal yang kurang mengenakan masih saya ingat, saat itu saya sedang dalam pengasuhan asisten rumah, dan saya tiba-tiba dicubit karena makan saya bermasalah, sy dipelototin, belum lagi sifat temperamen dari ayah saya dan itu terekam dalam ingatan sampai saya memiliki buah hati sendiri. Selain itu saya merasa innerchild saya, trauma masa kecil saya terkadang muncul spontanitas begitu saja saat saya emosi terhadap buah hati saya sendiri. Sedih...sedih,, saya tersadar saat saya sudah terlanjur meluapkan emosi saya, dan anak saya yang merasakan dampak, tapi saya tidak ingin hal itu terjadi dengan buah hati saya, segera saya cepat-cepat perbaiki, saya meminta maaf dan memeluk mereka erat.. Jauh dilubuk hati saya tidak ingin ini terjadi. Setiap hari, setiap saat saya berusaha mengatasi rasa trauma saya. Seiring berjalannya waktu, saya terus mencari referensi ilmu parenting, perlahan-lahan saya aplikasikan dan modifikasi sampai saya merasakan sendiri hasilnya dan saya bisa menentukan tujuan dan pola asuh untuk anak-anak saya.
Cerita kebelakang, sebelumnya saya bekerja di perusahaan perbankan, sampai saya mempunyai anak kedua dan memutuskan untuk berhenti. Dilema masa lalu dan ambisi masa depan sangat mengganggu, satu sisi saya tidak ingin anak-anak saya mengalami hal buruk pengasuhan seperti masa kanak-kanak saya dan sisi lain ambisi saya ingin menentukan pola asuh saya sendiri jauh dari intimidasi orang lain. Maka saya putuskan berhenti dan memulai kehidupan sebagai 'stay-at-home-mom'. Enak, mudah, gampang, seneng, bahagia rasa itu yg pertama kali ada dibenak saya saat saya putuskan resign, namun ternyata,,tidak semudah membalikkan telapak tangan, saya sempat diselimuti rasa depresi, ingin rasanya kembali bekerja, setiap hari seperti nightmare, saya ternyata belum bisa mengatasi innerchild saya, lalu saya banyak share dengan teman dan berbagai media parenting saya ikuti. Perlahan saya mulai bernegosiasi dengan alam pikiran saya, memantapkan niat saya, alhamdulillah saya temukan secercah harapan, saya mulai bangkit dan menikmati motherhood saya bersama anak-anak, dari situlah saya mulai menerapkan pola asuh yang sudah saya idam-idamkan jika suatu saat saya memiliki anak.
Hal pertama kali saya lakukan adalah saya diskusikan dengan suami, saya samakan visi dan misi pembibingan anak dengan suami, saya utarakan hal-hal terpenting penerapan pola asuh dasar yang akan diberikan sejak masa emas buah hati kami. Setelah kami memilih visi dan misi yang sama, maka selanjutnya action (saya yakin ini tidak mudah).
Saya bukan tipikal orangtua yang menggebu masalah IQ, saya ingin fokus pada EQ dan SQ anak-anak saya. Maka dari itu saya tidak memasang target yang muluk-muluk dan terlalu tinggi. Hal pertama yang saya terapkan kepada anak-anak adalah akhlak dan etika, just simple, tapi prakteknya perlu perhatian, konsistensi, dan repetisi juga role model. Saya mulai dengan mengenalkan konsep tauhid sederhana bahwa kami (ayah,bunda,tsaqif dan tsabitha) serta seluruh makhluk hidup dan alam semsta ciptaan ALLAH, mengajarkan doa-doa harian yang setiap waktu mereka lakukan, serta saya juga tekankan etika TTM; tolong, terima kasih, maaf. Hal pertama saya lakukan sebelum saya aplikasikan saya contohkan dan saya berusaha awali dengan pelukan,ciuman,pujian dan penuh kelembutan sebelum saya mengajarkan apapun kepada mereka. Saya terus lakukan pengulangan yang sama kepada mereka dan alhamdulillah hasilnya membuat saya terharu, mereka merespon dengan sangat baik 😊😊😊
Contohnya, saat mereka ingin dibuatkan susu, mereka awali dengan ucapkan, "bun, tolong bikinin aa susu" dan setelah tersedia, berkata "terimakasih,bun". Sampai hal yg tak terduga, ketika sedang makan, sulung tiba-tiba berkata "terimakasih,bunda sudah masakin, makanan bunda enaak ...." dduuuhh rasanya hati langsung melting 😄😄😄 ga ada ungkapan yang paling indah selain ungkapan rasa cinta anak kepada orangtuanya begitupun sebaliknya. Dan itu merupakan moodbooster saya untuk terus memperbaiki diri.
Karena kakaknya, sang adik juga meniru perilaku kakaknya, tak ayal saya sering kesal dengan adiknya yang sangat berbeda karakter dengan kakaknya, saya seringkali marah-marah, walaupun adik memang belum genap 2 tahun, entah kenapa saya masih suka emosi, sampai adiknya tiba-tiba ulurkan tangan dan meminta maaf walau hanya dengan bahasa tubuh dan bahasa yang masih terbatas, tapi saya melihat kesungguhan dimatanya bahwa dia menyadari kekeliruannya dan ingin meminta maaf, saya tidak dapat menahan diri untuk langsung mendekapnya dan menangis meminta maaf karena saya sudah emosi 😥😥😥.
Ya,, saya bertekad ingin mendidik anak-anak saya dengan cinta, dengan kelembutan, karena pada hakikatnya mereka adalah amanah dari ALLAH, kado terindah yang pernah saya panjatkan dalam setiap untaian doa...
Teruntuk buah hatiku tsaqif dan tsabitha,, tolong bantu bunda dan terus ingatkan bunda saat bunda khilaf,, bantu bunda memperbaiki diri. Bunda ingin membimbing kalian dengan penuh cinta sebagai rasa syukur bunda kepada ALLAH yang telah menitipkan kalian... 😘😘😘😘😘
#day1
#ODOPPreMatrik
#MulaiMenulis
#IIPBogor

0 comments:
Post a Comment